Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam terdiri dari 114 surah yang tersusun secara sistematis, meskipun tidak sesuai dengan urutan turunnya wahyu. Proses penyusunan surah-surah ini melibatkan peran Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan upaya kodifikasi pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Artikel ini akan membahas sejarah penyusunan surah Al-Qur’an, perdebatan ulama tentang sistematikanya, serta referensi dari sumber-sumber otoritatif.
1. Asal Usul Nama Surah dalam Al-Qur’an
Nama-nama surah dalam Al-Qur’an umumnya diyakini bersumber dari Nabi Muhammad SAW (bersifat tauqifi), meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa ada nama surah yang berasal dari ijtihad sahabat. Beberapa hadis menunjukkan bahwa Nabi SAW sendiri menyebut nama-nama surah seperti Al-Baqarah, Ali Imran, dan Al-Kahfi dalam sabdanya 113.
Namun, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Misalnya, Imam Sufyan bin Uyainah memberi nama Surah Al-Fatihah berdasarkan kandungannya, bukan dari petunjuk langsung Nabi. Sementara Imam Al-Tsa’labi berargumen bahwa Al-Fatihah harus dibaca utuh dalam shalat, sehingga penamaannya memiliki makna khusus 113.
Referensi:
- Imam At-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an
- Imam As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an
2. Kronologi Turunnya Surah dan Penyusunan Mushaf
Wahyu Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama 23 tahun, dimulai dengan Surah Al-‘Alaq ayat 1-5 di Makkah. Namun, susunan Al-Qur’an saat ini tidak mengikuti urutan turunnya wahyu. Sebagai contoh, Surah Al-Fatihah yang berada di urutan pertama bukanlah wahyu pertama, melainkan wahyu kelima 1115.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, ayat-ayat Al-Qur’an dicatat oleh para sahabat seperti Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, dan Ubay bin Ka’ab di berbagai media seperti pelepah kurma, lempengan batu, dan kulit hewan. Namun, Al-Qur’an belum dibukukan secara resmi karena wahyu masih terus turun 39.
Setelah Nabi wafat, Khalifah Abu Bakar memerintahkan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf karena kekhawatiran akan hilangnya para penghafal setelah Perang Yamamah. Proses ini dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dan disempurnakan pada masa Khalifah Utsman bin Affan dengan standar Rasm Utsmani 39.
Referensi:
- Shubhi Ash-Shalih, Mabahits fi Ulum al-Qur’an
- Muhammad Mustafa Al-A’zami, The History of the Qur’anic Text
3. Perdebatan Ulama tentang Sistematika Surah
Terdapat tiga pendapat utama mengenai penyusunan urutan surah dalam Al-Qur’an:
- Tauqifi (Berdasarkan Petunjuk Nabi)
- Sebagian ulama seperti Imam As-Suyuthi dan Imam Az-Zarkasyi meyakini bahwa urutan surah ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui petunjuk Jibril 113.
- Dalilnya adalah keseragaman mushaf para sahabat dan tidak adanya perbedaan pendapat tentang urutan surah setelah kodifikasi Utsmani.
- Ijtihad Sahabat
- Sebagian lain berpendapat bahwa urutan surah adalah hasil ijtihad para sahabat, seperti dalam mushaf pribadi Abdullah bin Mas’ud yang memiliki susunan berbeda 1.
- Kombinasi Tauqifi dan Ijtihad
- Pendapat moderat menyatakan bahwa sebagian surah disusun berdasarkan petunjuk Nabi, sedangkan sebagian lain disusun oleh sahabat 113.
Referensi:
- Imam Al-Baihaqi, Dalail an-Nubuwwah
- Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an
4. Perbandingan Urutan Turun dan Urutan Mushaf
Tabel berikut menunjukkan perbedaan antara urutan turunnya surah (nuzul) dan urutan dalam mushaf Utsmani 1115:
Urutan Turun | Nama Surah | No. Surah | Urutan Mushaf |
---|---|---|---|
1 | Al-‘Alaq | 96 | 96 |
5 | Al-Fatihah | 1 | 1 |
87 | Al-Baqarah | 2 | 2 |
113 | An-Nasr | 110 | 110 |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa surah Makkiyah (turun di Makkah) banyak berada di akhir mushaf, sedangkan surah Madaniyah (turun di Madinah) seperti Al-Baqarah dan Ali Imran berada di awal.
Referensi:
- Ibn Abbas, Tafsir Ibn Abbas
- Muhammad Asad, The Message of the Qur’an 16
5. Kesimpulan
Penyusunan surah Al-Qur’an merupakan proses yang melibatkan bimbingan wahyu, peran Nabi Muhammad SAW, dan upaya kodifikasi para sahabat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa urutan surah bersifat tauqifi, meskipun terdapat perbedaan pendapat. Pemahaman tentang sejarah penyusunan Al-Qur’an ini memperkuat keyakinan akan keotentikan dan kemukjizatan kitab suci umat Islam.
Referensi Tambahan:
- Musnad Ahmad (Hadis tentang penamaan surah) 12
- Buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (Analisis kronologi surah) 15
Leave a Reply