HADIST TENTANG MENCARI-CARI KESALAHAN ORANG LAIN


عن معاوية، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ الله الله يَقُولُ: إِنَّكَ إِنَّ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ اني افستندتهُمْ، أَو كنتَ أَنْ تُفْسِدُهُم.
قال أبو الدرداء : كَلِمَةٌ سَمِعَهَا مُعَاوِيَة مِنْ رَسُولِ اللَّهِ لَفَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا

Dari Muawiyah, ia berkata ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘jika kamu selalu menyelidiki aurat (aib) kaum muslim berarti kamu telah merusak mereka atau hamper merusak mereka.’ Abu darda berkata’ (Itulah) satu untaian kalimat yang muawiyah dengar dari Rasulullah yang begitu bermanfaat baginya.’

– Shahih Abu Daud : Bab 3
– Nomor 4888 : Halaman 342

Larangan mencari-cari kesalahan orang lain, atau yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai tajassus, merupakan prinsip penting dalam ajaran Islam. Tindakan ini dilarang karena dapat merusak hubungan antar individu dan menciptakan suasana yang tidak harmonis di dalam masyarakat.
Pengertian Tajassus
Tajassus berasal dari kata yang berarti menyelidiki atau mencari berita. Dalam konteks ini, ia merujuk pada tindakan mencari-cari kesalahan orang lain dengan cara yang tidak etis, seperti memata-matai atau mendengarkan pembicaraan secara diam-diam. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 12, bahwa tindakan ini sama dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati, sebuah gambaran yang menunjukkan betapa menjijikkannya perilaku tersebut
Dampak Negatif Mencari Kesalahan
Mencari-cari kesalahan orang lain tidak hanya merugikan korban tetapi juga pelakunya. Beberapa dampak negatif dari perilaku ini meliputi:
• Merusak hubungan: Tindakan ini dapat menyebabkan perpecahan dan perselisihan antara individu atau kelompok.
• Membangun prasangka buruk: Seringkali, tajassus berakar dari prasangka buruk yang dapat memicu konflik lebih lanjut
[Ika, 2025]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *